JAKARTA — Momentum refleksi kemerdekaan harus menjadi ruang untuk kembali memperkuat persatuan bangsa sekaligus meneguhkan peran pemuda dalam mengawal arah pembangunan nasional. Pemuda tidak boleh hanya menjadi penonton, tetapi harus hadir memberikan kontribusi nyata melalui gagasan, kerja, dan pengabdian untuk Indonesia.
Hal tersebut disampaikan Ketua Umum DPN PERMAHI, Azhar Sidiq S, dalam Diskusi semangat refleksi kemerdekaan yang mengangkat pentingnya penguatan peran pemuda dalam politik, hukum, pembangunan, dan kedaulatan nasional.
Azhar menilai tantangan Indonesia ke depan membutuhkan generasi muda yang mampu melihat kepentingan bangsa di atas kepentingan kelompok. Perbedaan pilihan politik, organisasi, maupun latar belakang harus menjadi kekayaan demokrasi, bukan alasan untuk memecah persatuan.
“Pemuda hari ini harus mampu memberikan kontribusi. Kita tidak boleh hanya berbicara tentang masa depan, tetapi harus mulai mengambil bagian dalam membangun masa depan itu. Persatuan bangsa harus menjadi fondasi utama,” tegas Azhar.
Menurutnya, DPN PERMAHI ingin mengambil bagian dalam membangun ruang kolaborasi antarpemuda dan organisasi kemahasiswaan. PERMAHI memandang bahwa kekuatan pemuda akan jauh lebih besar apabila disatukan dalam agenda kebangsaan yang konstruktif.
Dalam konteks pembangunan nasional, Azhar menilai Asta Cita harus dilihat sebagai agenda bersama yang membutuhkan dukungan dan pengawalan masyarakat, termasuk generasi muda. Pemuda dapat berkontribusi melalui pendidikan, penguatan kapasitas hukum, literasi politik, inovasi, ekonomi, teknologi, serta pengabdian kepada masyarakat.
“DPN PERMAHI ingin menjadi bagian dari gerakan yang mempersatukan bangsa. Kita ingin pemuda hadir bukan sebagai kelompok yang hanya mengkritik, tetapi sebagai mitra kritis yang mampu menawarkan solusi dan ikut mengawal pembangunan,” ujarnya.
Azhar juga menekankan bahwa pembangunan dan kedaulatan Indonesia tidak dapat dipisahkan dari supremasi hukum. Negara yang berdaulat membutuhkan hukum yang kuat, institusi yang berintegritas, demokrasi yang sehat, serta generasi muda yang memahami hak dan kewajibannya sebagai warga negara.
Kedaulatan, lanjutnya, tidak hanya berbicara mengenai wilayah dan politik. Kedaulatan juga mencakup kedaulatan hukum, ekonomi, pangan, energi, teknologi, pendidikan, dan sumber daya manusia.
Karena itu, momentum kemerdekaan harus dimanfaatkan untuk melakukan evaluasi sekaligus menyusun langkah ke depan. Generasi muda harus berani membangun tradisi intelektual yang sehat, berdialog lintas kelompok, dan menghadirkan gagasan yang dapat memperkuat ketahanan nasional.
DPN PERMAHI mendorong agar refleksi kemerdekaan menjadi titik temu berbagai kekuatan pemuda Indonesia. Perbedaan organisasi dan pandangan tidak seharusnya menjadi tembok pemisah, melainkan menjadi energi untuk saling melengkapi.
“Kemerdekaan bukan hanya warisan yang kita terima, tetapi tanggung jawab yang harus kita lanjutkan. Tugas pemuda adalah menjaga persatuan, memperkuat hukum, mengawal pembangunan dan memastikan kedaulatan Indonesia tetap tegak,” kata Azhar.
Semangat tersebut menjadi bagian dari komitmen DPN PERMAHI untuk terus membangun kontribusi pemuda dalam kehidupan kebangsaan. Dari kampus, ruang publik, organisasi, hingga masyarakat, pemuda harus mampu menghadirkan kerja nyata bagi Indonesia.
Pada akhirnya, refleksi kemerdekaan bukan sekadar mengenang sejarah, tetapi menjadi momentum untuk menjawab satu pertanyaan besar: apa yang dapat dilakukan generasi hari ini untuk memastikan Indonesia semakin bersatu, berdaulat, adil, dan maju?
Bagi DPN PERMAHI, jawabannya adalah bersatu dalam kebangsaan, berkontribusi dalam pembangunan, mengawal hukum, dan bergerak bersama untuk mewujudkan Indonesia yang berdaulat.***