Banda Aceh — Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia (PERMAHI) Cabang Aceh menaruh perhatian serius terhadap kondisi warga yang terdampak bencana banjir dan longsor di sejumlah wilayah Aceh. Ketua PERMAHI Aceh, Rifqi Maulana, menilai langkah cepat dan responsif jajaran Polda Aceh dalam menyalurkan bantuan sosial merupakan bukti nyata kehadiran Polri di tengah penderitaan masyarakat.
Menurut Rifqi, tindakan sigap personel kepolisian yang turun langsung ke lokasi bencana menunjukkan bahwa Polri tidak hanya hadir dalam penegakan hukum, tetapi juga menjalankan misi kemanusiaan dengan penuh empati. Kehadiran polisi di tengah warga terdampak banjir memberikan rasa aman sekaligus harapan bagi masyarakat yang sedang berjuang menghadapi situasi sulit.
“Inilah bentuk pelayanan yang humanis dan patut menjadi contoh bagi kita semua. Kami memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Kapolda Aceh Irjen Pol. Drs. Marzuki Ali Basyah, M.M., beserta seluruh jajaran Polda Aceh atas kesigapan dan dedikasi dalam menangani dampak bencana hidrometeorologi yang melanda Aceh,” ujar Rifqi.
Ia menilai, penanganan pascabencana yang dilakukan Polda Aceh berlangsung cepat, terukur, dan menyentuh langsung kebutuhan masyarakat terdampak. Langkah-langkah strategis yang diambil Kapolda Aceh, kata Rifqi, mencerminkan komitmen kuat institusi kepolisian dalam menerjemahkan arahan Presiden Prabowo Subianto dan Kapolri yang menempatkan penanganan bencana sebagai salah satu prioritas utama Polri.
“Keseriusan Kapolda Aceh Irjen Pol. Marzuki Ali Basyah terlihat jelas dari kehadiran langsung personel di lapangan. Ini bukan sekadar simbol, tetapi kerja nyata yang dirasakan langsung oleh masyarakat,” tegasnya.
Rifqi menambahkan, kehadiran personel Polda Aceh di lokasi-lokasi terdampak terparah tidak hanya memberi rasa aman, tetapi juga mempercepat proses pemulihan pascabencana. Mulai dari evakuasi korban, distribusi bantuan logistik, hingga pembersihan material banjir dan lumpur dilakukan secara intensif dan berkelanjutan.
Sebagaimana diketahui, bencana hidrometeorologi akibat cuaca ekstrem yang dipengaruhi siklon tropis Senyar melanda Aceh sejak akhir November 2025, dengan puncak banjir bandang dan longsor terjadi pada 26 November 2025. Data Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) mencatat sedikitnya 18 kabupaten/kota terdampak, ratusan ribu warga terimbas, puluhan ribu rumah rusak, serta adanya korban jiwa dan kehilangan harta benda.
Wilayah terdampak paling parah meliputi Aceh Tamiang, Pidie Jaya, Bireuen, Aceh Tengah, Bener Meriah, Gayo Lues, Aceh Tenggara, dan Aceh Utara. Ribuan warga terpaksa mengungsi, akses jalan terputus, serta endapan lumpur setinggi hingga dua meter menghambat aktivitas masyarakat.
Dalam kondisi tersebut, Polda Aceh mengerahkan personel secara masif untuk mendukung operasi kemanusiaan. Selain evakuasi dan distribusi bantuan, polisi turut membersihkan lumpur di permukiman warga, masjid, meunasah, sekolah, dan fasilitas umum. Polda Aceh juga membantu penyediaan air bersih, mendirikan pos pelayanan kesehatan, serta melakukan pendampingan psikososial bagi para korban.
PERMAHI Aceh menilai, langkah-langkah tersebut menunjukkan wajah Polri yang humanis, responsif, dan benar-benar hadir di tengah rakyat. Hingga kini, proses pemulihan masih terus berjalan dengan fokus pada pembukaan akses jalan, percepatan distribusi bantuan, serta pendampingan berkelanjutan bagi warga terdampak, seiring dengan koordinasi pemerintah pusat dan daerah dalam pembangunan hunian tetap dan rehabilitasi infrastruktur.***