Pelalawan, Okegas.co.id – Aliansi Mahasiswa dan Masyarakat Peduli (AMMP) mendesak pemerintah agar tidak mengorbankan masyarakat dalam penanganan kasus kematian anak gajah di Kabupaten Pelalawan, Riau. Organisasi tersebut meminta aparat penegak hukum dan pemangku kepentingan terkait untuk bertindak transparan serta menyeluruh dalam mengungkap dugaan kejahatan terhadap satwa langka yang dilindungi.
Ketua AMMP, Wandri Saputra Simbolon, mengaku miris melihat penanganan kasus yang dinilainya belum sepenuhnya terbuka. Ia menilai negara tidak boleh gegabah dalam menetapkan kesimpulan tanpa pendalaman yang komprehensif.
“Jangan sampai demi kepentingan tertentu, masyarakat yang tidak tahu apa-apa justru menjadi korban. Pemerintah harus memeriksa semua pemangku kepentingan yang bertanggung jawab atas penjagaan satwa langka,” tegas Wandri dalam keterangannya, Selasa (4/3).
Kasus kematian anak gajah tersebut terjadi di kawasan sekitar Taman Nasional Tesso Nilo, yang selama ini dikenal sebagai habitat penting gajah Sumatera. AMMP menekankan bahwa kejahatan terhadap satwa liar yang dilindungi harus diberantas hingga tuntas agar menimbulkan efek jera dan tidak terulang kembali.
Menurut AMMP, anak gajah yang ditemukan mati itu memang tidak dalam kondisi terjerat saat ditemukan. Namun, adanya bekas jerat dan sisa tali di bagian kaki menjadi indikasi kuat dugaan tindak perburuan ilegal.
“Siapa pemburunya, siapa penadahnya, bagaimana sistem pengawasannya, dan apakah ada keterlibatan oknum tertentu? Semua itu harus dibuka secara transparan. Sampai konferensi pers kemarin, kami menilai keterbukaan tersebut belum sepenuhnya disampaikan,” ujar Wandri.
Selain mendesak pengungkapan pelaku, AMMP juga mempertanyakan langkah mitigasi dan pengawasan terhadap populasi gajah di kawasan tersebut. Mereka meminta penjelasan terkait upaya pengobatan, pendataan jumlah gajah yang ada, serta kondisi kesehatan satwa-satwa yang masih bertahan.
Tak hanya itu, AMMP juga meminta evaluasi terhadap kinerja Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Riau dan pimpinan Balai Taman Nasional Tesso Nilo. Mereka mendorong agar dilakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap pejabat yang bertanggung jawab atas pengelolaan dan pengawasan kawasan konservasi tersebut.
Di sisi lain, AMMP meminta Kapolda Riau segera membentuk tim khusus (timsus) guna mempercepat pengungkapan kasus. Mereka berharap masyarakat dapat menyampaikan aduan secara langsung kepada Kapolda, mengingat komitmen aparat kepolisian dalam menjaga kelestarian gajah dan satwa langka lainnya, termasuk memberantas pembalakan liar yang masih terjadi di sejumlah kawasan hutan.
“Kematian anak gajah ini menjadi alarm keras bagi semua pihak. Jangan sampai kasus ini berlalu tanpa kejelasan. Penegakan hukum harus tegas, transparan, dan menyeluruh,” tutup Wandri.
Kasus ini kembali menyoroti tantangan besar dalam menjaga kelestarian gajah Sumatera yang populasinya terus terancam akibat perburuan dan kerusakan habitat. Pemerintah dan aparat penegak hukum kini dituntut membuktikan komitmen mereka dalam melindungi satwa dilindungi serta menindak tegas pelaku kejahatan lingkungan.***