Makrab di Okura, DEMA STAI Al-Azhar Pekanbaru Dorong Lahirnya Gerakan Mahasiswa Berintegritas

Makrab di Okura, DEMA STAI Al-Azhar Pekanbaru Dorong Lahirnya Gerakan Mahasiswa Berintegritas

Pekanbaru, Okegas.co.id — Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) STAI Al-Azhar Pekanbaru menggelar Malam Keakraban (Makrab) di kawasan Taman Bunga Impian, Okura, Kecamatan Rumbai, Pekanbaru, Minggu (11/10/2026). Kegiatan ini dimanfaatkan sebagai momentum mempererat solidaritas sekaligus memperkuat kesadaran mahasiswa terhadap peran strategisnya dalam kehidupan akademik dan sosial.

Mengangkat tema “Merajut Solidaritas, Menguatkan Kapasitas, Menakar Arah Gerakan Mahasiswa yang Berintegritas”, kegiatan tersebut tidak hanya berorientasi pada kebersamaan antarmahasiswa, tetapi juga menjadi ruang refleksi untuk membangun gerakan mahasiswa yang kritis, berwawasan luas, dan memiliki keberpihakan terhadap kepentingan masyarakat.

Presiden Mahasiswa DEMA STAI Al-Azhar Pekanbaru, Noprianda Ramadhan, mengatakan bahwa Makrab menjadi salah satu upaya untuk kembali menumbuhkan semangat perjuangan mahasiswa agar tidak kehilangan arah dan tetap berpegang pada nilai-nilai idealisme.

Menurutnya, mahasiswa harus mampu memadukan kekuatan intelektual, integritas moral, dan keberanian dalam menyuarakan berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.

“Melalui kegiatan ini, kita ingin menghidupkan kembali semangat perjuangan mahasiswa yang tidak hanya lantang dalam berbicara, tetapi juga memiliki kapasitas intelektual, integritas moral, serta keberanian untuk memperjuangkan kepentingan rakyat. Solidaritas harus menjadi kekuatan kolektif yang mendorong lahirnya gerakan mahasiswa yang kritis, terarah, dan bertanggung jawab,” ujarnya.

Ia menilai, organisasi mahasiswa semestinya tidak hanya menjadi tempat berkumpul atau menjalankan rutinitas kegiatan. Lebih dari itu, organisasi harus menjadi ruang pembelajaran untuk membentuk pola pikir kritis, memperluas wawasan, mengasah kemampuan kepemimpinan, dan membangun kepekaan terhadap persoalan sosial.

Dengan demikian, keterlibatan mahasiswa dalam organisasi diharapkan mampu melahirkan individu yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kesadaran sosial dan keberanian mengambil peran dalam mendorong perubahan.

Mahasiswa Harus Membuktikan Peran sebagai Agen Perubahan

Sementara itu, Ketua Pelaksana Makrab yang juga Wakil Presiden Mahasiswa DEMA STAI Al-Azhar Pekanbaru, Ikromil Hadi, menegaskan pentingnya menjaga keberlanjutan kegiatan yang dapat memperkuat kapasitas dan kesadaran mahasiswa.

Ia berharap, kegiatan semacam ini tidak berhenti sebagai agenda seremonial, melainkan menjadi bagian dari proses pembentukan karakter selama mahasiswa menempuh pendidikan di perguruan tinggi.

“Kegiatan seperti ini harus terus kita rawat selama kita masih menjadi mahasiswa. Kita sering disebut sebagai agent of change atau agen perubahan. Namun, predikat itu tidak cukup hanya menjadi slogan. Mahasiswa harus mampu membuktikan perannya melalui pemikiran yang akademis, sikap intelektual, keberanian bersikap kritis, serta keberpihakan nyata kepada masyarakat,” ungkap Ikromil.

Menurutnya, semangat perubahan harus dibangun melalui penguatan tradisi intelektual. Mahasiswa perlu membiasakan diri berdiskusi secara sehat, memperluas wawasan melalui kegiatan membaca, serta mengembangkan kemampuan penelitian agar mampu memahami persoalan secara mendalam.

Ia juga menekankan bahwa sikap kritis harus disertai argumentasi yang kuat dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Kritik, lanjutnya, tidak seharusnya berhenti pada penyampaian ketidakpuasan, tetapi perlu diarahkan untuk menghasilkan gagasan dan solusi yang bermanfaat bagi masyarakat.

Tri Dharma Perguruan Tinggi sebagai Landasan Gerakan

Selain memperkuat solidaritas dan kapasitas intelektual, Makrab tersebut juga menjadi momentum untuk menegaskan kembali pentingnya pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, yakni pendidikan dan pengajaran, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat.

Ketiga unsur tersebut tidak semestinya hanya dipahami sebagai kewajiban akademik atau sebatas materi yang dipelajari di ruang perkuliahan. Sebaliknya, Tri Dharma harus menjadi landasan bagi mahasiswa untuk mengembangkan pengetahuan sekaligus menghadirkan manfaat nyata di tengah masyarakat.

Pendidikan diharapkan mampu membangun kesadaran dan cara berpikir yang terbuka. Penelitian harus menghasilkan pengetahuan serta menawarkan solusi atas berbagai persoalan. Sementara itu, pengabdian kepada masyarakat menjadi wujud penerapan ilmu pengetahuan untuk menjawab kebutuhan publik.

Dalam konteks gerakan mahasiswa, ketiga unsur tersebut dapat menjadi pijakan untuk membangun gerakan yang tidak hanya lantang menyampaikan kritik, tetapi juga memiliki dasar keilmuan, arah perjuangan, dan kontribusi yang terukur.

DEMA STAI Al-Azhar Pekanbaru menilai, integritas merupakan unsur penting dalam menjaga kepercayaan masyarakat terhadap gerakan mahasiswa. Semangat solidaritas perlu berjalan beriringan dengan peningkatan kapasitas, sedangkan kecakapan intelektual harus disertai kepedulian terhadap persoalan rakyat.

Tanpa kapasitas yang memadai, solidaritas berisiko kehilangan arah. Sebaliknya, intelektualitas tanpa kepekaan sosial dapat menjauhkan mahasiswa dari realitas yang dihadapi masyarakat. Sementara itu, gerakan yang tidak berlandaskan integritas berpotensi kehilangan legitimasi dan kepercayaan publik.

Karena itu, mahasiswa dituntut untuk terus meningkatkan kualitas diri, menjaga independensi berpikir, memperkuat persatuan, serta mengambil peran dalam mengawal berbagai persoalan sosial secara objektif dan bertanggung jawab.

Tidak Berhenti pada Slogan Perubahan

Melalui kegiatan Makrab di Okura tersebut, DEMA STAI Al-Azhar Pekanbaru berharap tumbuh semangat kolektif di kalangan mahasiswa untuk terus belajar, berdiskusi, meneliti, dan mengabdi.

Kebersamaan yang terbangun dalam organisasi diharapkan tidak hanya mempererat hubungan personal, tetapi juga menjadi modal untuk memperkuat kerja-kerja intelektual dan sosial di lingkungan kampus maupun di tengah masyarakat.

Mahasiswa dinilai perlu melampaui kegiatan seremonial dan slogan perubahan dengan menghadirkan tindakan nyata yang dapat dirasakan manfaatnya oleh publik.

Sebab, mahasiswa tidak hanya menjadi bagian dari lingkungan akademik, tetapi juga memiliki tanggung jawab moral dan intelektual untuk menjaga nalar kritis, memperjuangkan keadilan, serta mendorong perubahan yang berorientasi pada kepentingan masyarakat.

Dengan semangat solidaritas, kapasitas intelektual, dan integritas, gerakan mahasiswa diharapkan tetap menjadi kekuatan yang mampu menyuarakan aspirasi publik sekaligus menawarkan gagasan konstruktif bagi kehidupan sosial dan kebangsaan.***

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index