ACEH TENGGARA – Upaya memperluas akses pendidikan dan meringankan beban ekonomi keluarga terus menjadi perhatian Anggota DPR RI Fraksi Partai NasDem, H. Muslim Ayub, S.H., M.M. Melalui perjuangan aspirasi, sebanyak 673 siswa di Kabupaten Aceh Tenggara menerima bantuan Program Indonesia Pintar (PIP).
Penyaluran bantuan tersebut menjadi bagian dari komitmen untuk memastikan anak-anak dari keluarga kurang mampu tetap mendapatkan kesempatan mengenyam pendidikan yang layak.
Berdasarkan data penerima, bantuan PIP tersebut mencakup 450 siswa tingkat Sekolah Dasar (SD), 167 siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP), 32 siswa Sekolah Menengah Atas (SMA), dan 24 siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).
Bagi Muslim Ayub, pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Karena itu, dukungan terhadap keberlanjutan pendidikan harus menjadi perhatian bersama, khususnya bagi peserta didik yang menghadapi keterbatasan ekonomi.
Ia berharap bantuan tersebut dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan pendidikan, seperti perlengkapan sekolah dan kebutuhan penunjang pembelajaran lainnya. Dengan demikian, para siswa dapat lebih fokus belajar dan mengembangkan potensi diri.
Menurutnya, setiap anak memiliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan. Kondisi ekonomi keluarga tidak boleh menjadi penghalang bagi generasi muda untuk meraih cita-cita dan masa depan yang lebih baik.
Sementara itu, Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan Aceh Tenggara, Tawardi, S.Pd., berharap alokasi penerima PIP untuk daerah tersebut dapat terus ditingkatkan. Ia menyampaikan harapan agar pada 2027 jumlah penerima dapat mencapai 2.500 siswa.
Peningkatan kuota tersebut dinilai penting agar semakin banyak peserta didik dari keluarga yang membutuhkan memperoleh kesempatan menerima bantuan pendidikan.
Penyaluran 673 beasiswa PIP ini menjadi langkah positif dalam memperkuat pemerataan pendidikan di Aceh Tenggara. Kolaborasi antara pemerintah, legislatif, dan satuan pendidikan diharapkan terus berjalan agar tidak ada anak yang kehilangan kesempatan belajar karena keterbatasan biaya.
Pada akhirnya, investasi terbaik bagi daerah bukan hanya pembangunan infrastruktur, melainkan juga pembangunan manusia melalui pendidikan. Dari ruang-ruang kelas hari ini, masa depan Aceh dan Indonesia sedang dipersiapkan.