Harga Karet Anjlok di Pematang Tebih Ujung Batu, Petani Menjerit dan Minta Pemkab Rohul Turun Tangan

Harga Karet Anjlok di Pematang Tebih Ujung Batu, Petani Menjerit dan Minta Pemkab Rohul Turun Tangan

ROKAN HULU (OG) – Kabar kurang menggembirakan datang dari kalangan petani karet di Desa Pematang Tebih, Kecamatan Ujung Batu, Kabupaten Rokan Hulu (Rohul), Riau. Harga karet di lokasi tender Cempedak Mati mengalami penurunan cukup signifikan, dari sebelumnya Rp24.900 per kilogram menjadi Rp22.488 per kilogram, Sabtu (7/11/2026).

Penurunan harga tersebut memicu keresahan di kalangan petani. Pasalnya, karet masih menjadi salah satu sumber utama mata pencaharian masyarakat setempat. Turunnya harga jual dinilai semakin memberatkan kondisi ekonomi petani, terlebih ketika harga berbagai kebutuhan pokok, bahan bakar minyak (BBM), dan pupuk justru mengalami kenaikan.

Para petani pun berharap Pemerintah Kabupaten Rokan Hulu melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) segera turun ke lapangan untuk mengevaluasi penyebab penurunan harga tersebut.

Mereka juga meminta pemerintah memberikan penjelasan secara terbuka mengenai standar atau acuan harga karet yang berlaku di wilayah Rokan Hulu, sehingga petani memiliki gambaran mengenai harga yang wajar dan tidak dirugikan dalam proses jual beli.

Salah seorang petani karet, K. Pane, mengaku kondisi tersebut sangat memberatkan masyarakat yang selama ini menggantungkan penghasilan dari hasil perkebunan karet.

"Bagaimana petani bisa memenuhi kebutuhan keluarga jika harga karet terus turun, sementara harga sembako semakin mahal dan tidak sebanding lagi dengan penghasilan kami," keluh K. Pane.

Menurutnya, pemerintah daerah perlu memberikan perhatian serius terhadap persoalan tersebut. Kehadiran instansi terkait sangat dibutuhkan untuk memastikan mekanisme perdagangan karet berjalan secara transparan dan petani memperoleh harga yang layak.

Ia juga meminta pemerintah melakukan pengawasan terhadap tata niaga karet agar tidak terjadi praktik perdagangan yang merugikan petani.

"Jangan sampai harga karet dimainkan oleh pihak-pihak yang memiliki kekuatan besar atau oligarki. Pemerintah harus hadir untuk memantau dan melindungi hak-hak petani," tegasnya.

K. Pane menambahkan, kondisi ekonomi petani saat ini semakin terhimpit. Di satu sisi, biaya hidup terus meningkat, mulai dari kebutuhan sembako, BBM hingga pupuk. Namun, di sisi lain, pendapatan dari hasil penjualan karet justru mengalami penurunan.

Atas kondisi tersebut, para petani berharap Pemkab Rokan Hulu, khususnya Disperindag, segera melakukan evaluasi dengan turun langsung ke lokasi tender Cempedak Mati, Desa Pematang Tebih.

Petani juga meminta agar pemerintah menyampaikan informasi mengenai standar acuan harga karet di Rokan Hulu serta langkah konkret untuk menjaga stabilitas harga di tingkat petani.

Mereka berharap persoalan ini tidak dibiarkan berlarut-larut. Sebab, harga karet yang layak dan mekanisme perdagangan yang transparan menjadi harapan masyarakat perkebunan untuk mempertahankan perekonomian keluarga.

(Suwito, S.T., M.Si)

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index