LANGKAWI, MALAYSIA – Aceh semakin membuka diri terhadap investasi dan kerja sama bisnis internasional. Momentum tersebut diperkuat PT Pembangunan Aceh (Perseroda) atau PT PEMA melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) bersama 16 CEO perusahaan dari China, Thailand, Malaysia, dan sejumlah negara lainnya.
MoU tersebut ditandatangani Direktur Utama PT PEMA Faisal Ilyas dalam rangkaian Langkawi International Agriculture & Aquaculture Conference (LIAA) 2026, Jumat (18/9/2026).
Langkah ini menjadi bagian dari upaya PT PEMA memperluas jejaring bisnis sekaligus membuka peluang masuknya investasi internasional ke Aceh, khususnya pada sektor pertanian, perikanan, dan akuakultur.
Kehadiran PT PEMA dalam forum internasional tersebut juga memperlihatkan upaya perusahaan daerah Aceh untuk membangun konektivitas bisnis dengan pelaku usaha di kawasan Asia.
Penandatanganan MoU disaksikan Direktur Pengembangan Bisnis PT PEMA Naufal Natsir Mahmud serta Direktur Umum dan Keuangan PT PEMA Tgk. Muhammad Nur.
Dari Forum Internasional Menuju Peluang Investasi Aceh
LIAA 2026 mempertemukan pelaku industri, investor, pemerintah, dan pemangku kepentingan dari berbagai negara untuk membahas perkembangan sektor pertanian dan akuakultur.
Forum tersebut menjadi ruang untuk menjajaki peluang kerja sama dalam bidang teknologi, investasi, pembiayaan, pengembangan usaha, hingga keberlanjutan sektor pertanian dan perikanan.
Sejumlah tokoh penting turut hadir, di antaranya Datok Sri Ooi Boon Seang, CEO Officer Ausin Group; Han Bigchen, CEO Fujian Azure Ocean Group Co. Ltd sekaligus perwakilan China; Datuk Dr. Haji Abdul Salim, Direktur General dan Ketua Pengarah LKIM; serta Ahmad Faisal, Head of Marine Aquaculture Section, Aquaculture Division, Department of Fisheries Malaysia.
Direktur Utama PT PEMA Faisal Ilyas mengatakan, forum tersebut menjadi kesempatan penting untuk membangun komunikasi bisnis sekaligus memetakan peluang kerja sama yang dapat dikembangkan di Aceh.
“Kehadiran PT PEMA pada Forum LIAA ini bagian dari kolaborasi di sektor perikanan. Kami sedang memetakan kolaborasi jangka pendek dan panjang serta mengajak investasi di Aceh,” kata Faisal.
Faisal menegaskan, peluang kerja sama yang muncul dari forum internasional tersebut akan dikaji secara profesional sebelum masuk pada tahap implementasi.
“PT PEMA akan memastikan setiap tindak lanjut atas MoU ini tetap memperhatikan aspek kelayakan bisnis, tata kelola, pengelolaan risiko, serta manfaat ekonomi bagi Aceh,” ujarnya.
Memperkuat Posisi Aceh di Kawasan
Kerja sama internasional yang dibangun PT PEMA diharapkan dapat membuka ruang baru bagi Aceh untuk memperkuat hubungan perdagangan dan investasi dengan negara-negara kawasan.
Sektor pertanian dan akuakultur menjadi salah satu ruang potensial untuk dikembangkan melalui transfer teknologi, penguatan rantai pasok, peningkatan produktivitas, serta masuknya investasi baru.
Posisi geografis Aceh yang berada di jalur strategis kawasan turut memberikan peluang untuk memperkuat konektivitas ekonomi dengan negara-negara tetangga.
Kerja sama tersebut juga sejalan dengan semangat penguatan Indonesia–Malaysia–Thailand Growth Triangle (IMT-GT) sebagai salah satu koridor kerja sama ekonomi kawasan.
Bagi PT PEMA, keterlibatan dalam forum internasional seperti LIAA menjadi bagian dari langkah memperluas jejaring dan mencari peluang bisnis yang dapat memberikan nilai tambah bagi daerah.
Dengan semakin terbukanya komunikasi dengan investor dan pelaku usaha internasional, Aceh memiliki ruang untuk memperkenalkan potensi daerah sekaligus menarik kerja sama yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi dan membuka peluang usaha baru bagi masyarakat.***