MOROTAI — Memasuki satu tahun kepemimpinan Bupati dan Wakil Bupati Pulau Morotai, Rusli Sibua dan Rio Kristian Pawane, dinamika politik dan pemerintahan mulai memasuki fase evaluasi publik. Advokat Morotai, Ashary Pawane, SH, menilai satu tahun pertama bukan sekadar penanda waktu, melainkan fase ujian kepemimpinan.
Kawan, satu tahun dalam politik itu bukan sekadar hitungan kalender. Ia adalah ujian kesabaran dan konsistensi. Ujian siapa yang sungguh-sungguh berdiri untuk rakyat dan siapa yang sekadar berdiri untuk kepentingannya sendiri,” ujar Ashary dalam keterangannya, Sabtu.
Menurut dia, kepemimpinan Rusli–Rio tidak hanya diuji oleh realisasi program, tetapi juga oleh dinamika internal dan eksternal yang menyertai kekuasaan. Ia menyinggung adanya godaan politik, kepentingan yang bermain di belakang layar, hingga pihak-pihak yang dinilainya mencoba meretakkan soliditas.
Dalam politik, yang paling berbahaya bukan lawan yang terang-terangan menyerang. Yang paling berbahaya adalah mereka yang berdiri di belakang, bertepuk tangan di depan, tetapi menyimpan agenda di balik senyuman,” katanya.
Ashary mengakui dirinya memilih diam selama setahun terakhir. Namun, ia menegaskan sikap itu bukan bentuk pembiaran. “Diam bukan berarti tidak peduli. Diam adalah cara melihat lebih jernih sebelum berbicara lebih keras,” ungkapnya
Ia juga mengingatkan para pendukung agar tidak berubah sikap ketika pemerintahan berjalan tak sepenuhnya sesuai ekspektasi pribadi. Menurutnya, tanggung jawab politik tidak berhenti di bilik suara, melainkan berlanjut dalam bentuk pengawalan dan evaluasi objektif.
Dalam pandangannya, pemerintahan Rusli–Rio menghadapi tantangan tidak ringan, mulai dari kebijakan efisiensi nasional, tekanan anggaran, hingga beban utang daerah yang harus diselesaikan bertahap. Di sisi lain, terdapat resistensi terhadap perubahan dari pola-pola lama yang telah mengakar.
Namun, Ashary menilai ukuran utama bukan pada besarnya hambatan, melainkan arah kebijakan yang ditempuh. “Jika fondasi sudah diletakkan, sistem mulai dirapikan, dan keberanian mengambil keputusan mulai terlihat, itu tanda kapal sedang diarahkan ke tujuan,” ujarnya.
Ia mengakui masyarakat menginginkan perubahan cepat. Akan tetapi, menurutnya, perubahan sosial dan birokrasi tidak dapat diselesaikan dalam waktu singkat. Yang terpenting, kata dia, adalah konsistensi kebijakan dan integritas dalam pengambilan keputusan.
Tantangan hukum juga tidak ringan. Penataan birokrasi harus sesuai regulasi. Tidak bisa lagi bermain abu-abu. Kepastian hukum adalah fondasi investasi dan stabilitas,” katanya.
Ashary menegaskan, satu tahun pertama adalah bab awal. Pemerintahan Rusli–Rio, menurutnya, belum sempurna, tetapi sebagian agenda telah mulai berjalan dan membutuhkan percepatan.
“Apakah sudah sempurna? Tentu belum. Apakah sudah berjalan? Sebagian telah dimulai. Tapi pekerjaan ini tidak bisa dibebankan hanya pada dua orang. Kita yang memilih, kita pula yang bertanggung jawab mengawal,” ujar dia.
Ia mengajak seluruh elemen masyarakat menjaga soliditas dan tidak saling menjatuhkan di tengah proses konsolidasi pemerintahan.
“Belum ada kata terlambat untuk memperbaiki dan mempercepat langkah. Untuk Morotai yang adil, unggul, dan sejahtera,” kata Ashary.***